Maha Agung dan Maha Kecil
Jumat berkah. Kira- kira tiga minggu yang lalu aku sedang bingung ketika bercakap dengan Tuhan. Aku sedang berdoa selepas sholat Jumat. Ibadah yang katanya orang paling mulia diantara ibadah sholat wajib yang lain. Setelah aku mengetahui kondisi Ranu yang berjuang dengan alat-alat pacu supaya dia bisa bertahan hidup, aku percaya bahwa doa adalah jalan yang terbaik. Masalahnya aku harus berdoa apa? Bagaimana dan seperti apa,?
Tuhanku Maha Agung, Tuhanku Maha Besar, aku percaya dan
meyakini itu. Allahu Akbar. Lantunan setiap umatnya yang ingat bahwa kita sangat
kecil dan ingin merasa bahwa kita selalu didampingi oleh Tuhannya yang Besar. Aku
mengucapkan Allahu Akbar ketika aku pertama kali bertemu dengan malaikat
kecilku, jagoanku, anakku. Begitu tampan engkau nak, begitu kangenkah engkau
dengan kami, orang tuamu, sampai tidak sabar menunggu lahir di bulan April. Masih dua
bulan lagi nak sampai engkau benar-benar menjadi orang yang besar.
Sejenak aku memandang begitu besar suratan Tuhan sampai
malaikat kecil itu engkau tunjukan kepada kami. Saat itu, jumat itu, aku berdoa
selepas sholat tapi bingung. Tuhanku yang maha agung, bagaimana aku bisa
memulai percakapan ini. Aku seorang muslim yang tidak taat kepada perintahmu. Aku
seorang islam yang masih sering melanggar laranganmu. Aku seorang umatmu yang masih
sering melakukan banyak dosa. Bagaimana bisa aku bisa memulai percakapan ini? Tuhan,
aku bertaubat. Aku awali doaku dengan bacaan istigfar. Aku bertaubat.
Astagfirullahaladzim,
lalu aku sambung dengan bacaan surat pendek. Al-Fatihah, Al-Ikhlas, ayat kursi,
dan bacaan surat pendek yang lain. Setelah itu, aku mulai berdoa untuk dhik
Ranu tapi aku malah justru terdiam bingung. Aku yang kecil ini bingung mau
meminta apa kepada Tuhanku yang Maha besar ini. Teman, aku tidak pernah
sekalipun mengalami situasi dimana aku bingung untuk meminta.
Aku telah melihat
kondisi anakku yang bertahan hidup dengan alat yang bermacam-macam. Dia yang
lahir ke dunia langsung merasakan sakitnya jarum, pahitnya obat. Jika aku
berdoa supaya dia bertahan dan bisa hidup menemani kami, kok egois sekali aku. Dia
di Inkubator sedang kesakitan bertahan hidup sedangkan aku berdoa supaya dia
bertahan. Tapi jika aku meminta jalan yang terbaik, aku tidak rela. Tuhan, ini
jagoan yang aku tunggu-tunggu.
Tuhan, engkau begitu
agung. Sampai-sampai aku, umatmu yang kerdil ini bahkan bingung bagaimana aku
harus meminta doa kepadamu. Sampai pada akhirnya engkau memberikan jalan yang
terbaik bagi kami.
Komentar
Posting Komentar