Pendendam yang BerTuhan

Sesaat setelah istri dibawa ke Jember Klinik menggunakan grab car, dalam hati aku berkata. Kenapa harus bertengkar? Kenapa harus dia? Adhiknya sendiri.

Kenapa aku menyalahkan dia?

 

Kamis 16 desember 2021 sekitar waktu subuh kami mendapat musibah. Plafon atau langt-langit atap rumah kami ambrol, tiba-tiba jatuh. Alhamdullilah kami sempat menghindar dari kejadian tersebut karena waktu itu kami masih dalam keadaan tertidur. Irma yang waktu itu pertama kali menadari bahwa sepertinya ada yang tidak beres dengan plafon rumah. Ada bunyi gemeretak yang diikuti oleh bunyi dumdum lalu braak, jatuhlah plafon rumah kami. Kami sangat bersyukur bahwa setengah dari plafon tertahan oleh rak dan bingkai cermin. Jika tidak, maka langit-langit rumah pasti sudah menghantam kepala kami.

 

Kamis 30 desember 2021, adalah kali pertama aku berpisah dengan jagoan gatengku. Dia pergi bersama ibunya dan neneknya ke Situbondo. Singkat cerita Irma memutuskan untuk sementara tinggal di Situbondo sampai rumah selesai dibenahi. Saat itu dia juga merasa merasa kesakitan di bagian pinggang dimasa kehamilan bulan ke 6. Pada saat itu aku pikir dia hanya beberapa hari saja di Situbondo, tapi Ranu sepertinya lagi lengket dengan Bunda (neneknya). Setiap kali mau pulang ke Jember, istri pasti merasa tidak enak badan. Entah pusing, muntah-muntah, bahkan sempat diare. Akupun tidak tega mengharuskan Irma untuk pulang, aku yang mengalah. Aku yang ke Situbondo, aku yang kangen Ranu.

 

Armaranu Dirandra Janardana, anakku yang masih dalam kandungan ibunya begitu betah di Situbondo sampai pada akhirnya kami putuskan pulang pada hari Kamis 27 Januari 2021 untuk pulang. Dua hari sebelumnya, malam sekitar jam 19.30 istri sempat video call. Dia mengatakan bahwa bertengkar dengan adhiknya. Faktor X yang tidak pernah aku pertimbangkan. Nyata di depan mata tapi terlewat begitu saja. Anak yang aku rawat-rawat lewat kandungan ibunya sekarang diserang secara psikis. Aku tahu dan paham bahwa Irma mempunyai perasaan yang lemah. Lidahnya mungkin memang tajam tapi perasaannya tumpul makanya aku sama sekali menghindari perseteruan langsung dengannya. Aku orang luar, aku jadi suaminya juga baru saja, aku paham betul tentang hal ini. Faktor X, aku tidak mempertimbangkan bahwa ternyata adhiknya kurang paham tentang ini. Aku tertawa. Kok lucu ya. Ada nyawa di dalam perut kakaknya, apa dia tidak sadar? Ah, sudahlah. Mungkin dia tidak mempertimbangkan hal itu, meski aku masih belum terima.

 

Tidak lama setelah Irma di Jember, ternyata Ranu sepertinya terlalu bersemangat untuk ketemu Ayah – Mama nya. Dalam perjuangan istri menunda kelahiran Ranu, aku minta doa dari adhik iparku dan suaminya, ternyata masih ada ketidakrelaan di hatinya. 12.48 aku whatsapp minta doa ibu dan anaknya sehat, di jawab singkat lalu disertai update status WA. Akan simpan status itu, akan aku simpan sampai Ranu lahir. Ternyata sampai sekarang, sampai Ranu sudah di surga aku masih menyimpan percakapan dan status WA itu.

 

Tuhan, aku dendam.

Tolong ambilkan dendam yang aku pendam sangat dalam ini.

Komentar