Waktu adalah Privilege (1)

Bulan Juni tahun ini aku akan berumur 32 tahun. Ternyata aku sudah tidak muda lagi. Aku merasa tua bukan karena umur yang sudah menginjak kepala tiga tetapi karena diumurku yang sekarang aku sudah tidak sesehat dulu. Tumit sudah sering nyeri ketika olah raga berat. Kepala sering pusing ketika bangun pagi, entah karena tekanan darah atau alasan yang lain. Dan yang paling mengesankan adalah aku sudah kehilangan gigi geraham atas sebelah kiri. Aku ompong.

 

Peran Ibuku dalam perawatan gigiku cukup besar. Ketika aku masih kecil, Ibuku selalu rutin mengajak ke dokter gigi. Belakang Balai Kota / Kantor Walikota Solo adalah tempatku memeriksa gigi secara rutin. Aku selalu dilarang untuk membuka bungkus makanan menggunakan gigi, tidak boleh minuman dingin apalagi menggigit es batu, dan masih banyak lagi wejangan-wejangan terkait masalah per gigian. Alhamdullilah berkat wejangan Ibu tersebut, aku mendapatkan gigi yang rapi dan sehat. Sampai senin, 21 Februari 2022 kemarin aku harus menanggalkan gigiku yang rusak.

 

Makan dengan gigi yang telah tanggal rasanya aneh. Aku tidak bisa lagi menikmati daging dengan nyaman. Lidahpun rasanya aneh karena merasakan ada yang bolong di sela-sela gigi. Senssasi ini tentu akan terus ada sampai gigi palsu akan terpasang untung menggantikan gigi yang sudah rusak. Meski yang palsu belum terpasang tapi aku sudah bisa membayangkan bagaimana akan anehnya sensasi gigi palsu yang ternanam.

 

Aku cukup bersyukur selama kurang lebih 31 tahun bisa merasakan nikmatnya makanan, sekarang waktunya beradaptasi dengan tanggalnya gigi. Bagi kalian yang masih mempunyai gigi yang lengkap, bersyukurlah, itu privilege kalian. Hak istimewa berupa waktu untuk menikmati makanan yang lezat dari Tuhan. Jika sudah seperti aku, bukan hanya nikmat makan yang telah dicabut. Bahkan aku sudah tidak bisa menyombongkan gigiku yang rapi dan sehat lagi.

Komentar